Ketika putranya divonis leukemia oleh dokter, rasa tak percaya dan berjuta perasaan lainnya bercampur aduk dalam diri Diana Ekarini 36. Bagaimana tidak, buah hatinya Abiyyu Nurhakim Jusafardila itu masih berusia 9 tahun!!
Segala usaha dan upaya pengobatan telah dilakukan oleh orang tua Abi.
seperti dilakukannya pengobatan alternatif yang mengandalkan obat-obatan suplemen di Sukabumi. pada awalnya pengobatan ini dirasakan cocok namun beberapa bulan kemudian kondisi Abi ngedrop kembali. dan sayangnya lagi, ternyata sang terapisnya pun mengaku sudah memberikan suplemen yang terbaik untuk Abi.
"Ia (sang terapis) bilang, mungkin jalan satu-satunya Abi harus di kemo," kata Diana, kesal. Meski begitu, ia tetap kukuh menolak anaknya melakukan kemoterapi.
"Saya bilang waktu itu, 'daripada kemo, mendingan uangnya buat sedekah'" tukasnya. Tak dinyana, perkataan Diana itu membuat sang terapis terkejut. Ia lalu menganjurkannya mendatangi Ustad Yusuf Mansyur (dengan Wisata Hati-nya), untuk melakukan terapi sedekah.
Melalui Wisata Hati yang dilakukannya, Diana banyak mempelajari berbagai ketentuan dalam bersedekah, salah satunya dengan melakukan ijab kabul. Bahkan saat itu juga, semua uang yang ia punya disedekahkan. "Hanya disisakan untuk bayar tol pulang saja," akunya.
Ketika itu, uang satu juta rupiah yang ia miliki telah diikhlaskan untuk disedekahkan. Tapi selang tiga hari kemudian, ternyata Diana malah mendapatkan rejeki dari temannya yang tinggal di luar negeri.
"Jumlahnya cukup besar, kalau dirupiahkan bisa mendapat 10 juta-an," tukasnya. Sejak itulah, tekad Diana untuk melakukan terapi sedekah semakin kuat. Sayangnya, ternyata kondisi Abi malah semakin memburuk. Sehingga Diana pun kembali ke dokter yang sama sebelumnya.
"Saat itu dokter sempat menyalahkan saya karena tidak mau menjalani kemoterapi," jelasnya. "Dokter mengatakan, kalau saja sebulan yang lalu Abi melakukan kemoterapi pasti sekarang ia sudah bisa lari-larian."
Tapi Diana tak berkecil hati, ia yakin mungkin inilah jalan yang harus ditempuh Abi. Meski buah hatinya tetap harus di kemo, namun ia puas telah berusaha semaksimal mungkin. Selain kemo, Diana tetap melanjutkan terapi sedekahnya.
"Saya dengan lapang hati mulai sering sedekah dan menambah keyakinan, sampai benar-benar meyakini bahwa kekuatan sedekah itu luar biasa," paparnya lagi. Ketika kondisi Abi mulai membaik, ia melihat bahwa inilah keajaiban yang diberikan padanya.
Bahkan setelah Diana mengikhlaskan communicator-nya untuk disedekahkan, dokter mengatakan kalau dalam tubuh Abi sudah tidak ada blast sama sekali.
Subhanallah, Maha Suci Allah...Tuhan yang tidak pernah mengingkari janji-janjiNya....
Mungkin kini saatnya bersedekah bagi yang belum pernah merasakan kejaiban sedekah...
atau mungkin kini saatnya meningkatkan sedekah kita bagi yang pernah merasakan indah dan ajaibnya sedekah itu....
Allah akan membalas kebaikan kita walaupun seberat biji sawi.....
Segala usaha dan upaya pengobatan telah dilakukan oleh orang tua Abi.
seperti dilakukannya pengobatan alternatif yang mengandalkan obat-obatan suplemen di Sukabumi. pada awalnya pengobatan ini dirasakan cocok namun beberapa bulan kemudian kondisi Abi ngedrop kembali. dan sayangnya lagi, ternyata sang terapisnya pun mengaku sudah memberikan suplemen yang terbaik untuk Abi.
"Ia (sang terapis) bilang, mungkin jalan satu-satunya Abi harus di kemo," kata Diana, kesal. Meski begitu, ia tetap kukuh menolak anaknya melakukan kemoterapi.
"Saya bilang waktu itu, 'daripada kemo, mendingan uangnya buat sedekah'" tukasnya. Tak dinyana, perkataan Diana itu membuat sang terapis terkejut. Ia lalu menganjurkannya mendatangi Ustad Yusuf Mansyur (dengan Wisata Hati-nya), untuk melakukan terapi sedekah.
Melalui Wisata Hati yang dilakukannya, Diana banyak mempelajari berbagai ketentuan dalam bersedekah, salah satunya dengan melakukan ijab kabul. Bahkan saat itu juga, semua uang yang ia punya disedekahkan. "Hanya disisakan untuk bayar tol pulang saja," akunya.
Ketika itu, uang satu juta rupiah yang ia miliki telah diikhlaskan untuk disedekahkan. Tapi selang tiga hari kemudian, ternyata Diana malah mendapatkan rejeki dari temannya yang tinggal di luar negeri.
"Jumlahnya cukup besar, kalau dirupiahkan bisa mendapat 10 juta-an," tukasnya. Sejak itulah, tekad Diana untuk melakukan terapi sedekah semakin kuat. Sayangnya, ternyata kondisi Abi malah semakin memburuk. Sehingga Diana pun kembali ke dokter yang sama sebelumnya.
"Saat itu dokter sempat menyalahkan saya karena tidak mau menjalani kemoterapi," jelasnya. "Dokter mengatakan, kalau saja sebulan yang lalu Abi melakukan kemoterapi pasti sekarang ia sudah bisa lari-larian."
Tapi Diana tak berkecil hati, ia yakin mungkin inilah jalan yang harus ditempuh Abi. Meski buah hatinya tetap harus di kemo, namun ia puas telah berusaha semaksimal mungkin. Selain kemo, Diana tetap melanjutkan terapi sedekahnya.
"Saya dengan lapang hati mulai sering sedekah dan menambah keyakinan, sampai benar-benar meyakini bahwa kekuatan sedekah itu luar biasa," paparnya lagi. Ketika kondisi Abi mulai membaik, ia melihat bahwa inilah keajaiban yang diberikan padanya.
Bahkan setelah Diana mengikhlaskan communicator-nya untuk disedekahkan, dokter mengatakan kalau dalam tubuh Abi sudah tidak ada blast sama sekali.
Subhanallah, Maha Suci Allah...Tuhan yang tidak pernah mengingkari janji-janjiNya....
Mungkin kini saatnya bersedekah bagi yang belum pernah merasakan kejaiban sedekah...
atau mungkin kini saatnya meningkatkan sedekah kita bagi yang pernah merasakan indah dan ajaibnya sedekah itu....
Allah akan membalas kebaikan kita walaupun seberat biji sawi.....
read the original posting....

2 komentar:
Terima kasih atas infonya.....
SUB'HANALLAH...
Poskan Komentar