Beberapa bulan yang lalu, ketika pertama kali mendengar ada ayam tolak pinggang, saya agak kaget juga. Kalau ayam bekisar, ayam ketawa, atau ayam kate saya sudah pernah dengar, tapi ini ayam tolak pinggang….apalagi ini….??? Jadi penasaran juga…..
Menurut omongan orang-orang, ayam tolak pinggang itu adanya di daerah sekitar Makassar tepatnya di Botonompo Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan. Kebetulan sekali mumpung lagi di Makassar saya langsung hunting itu ayam. Setelah ditelusuri, ketemulah sebuah lokasi yang katanya memiliki ayam tolak pinggang itu. Tempat sederhana yang tidak terlalu luas itu, terletak tidak jauh dari perbatasan kota Makassar dengan Kabupaten Gowa. Tempat ini konon merupakan cabang dari biang ayam tolak pinggang yang ada di Botonompo.
Saya sebenarnya sempat ragu untuk masuk ke tempat itu karena di situ tidak ada tanda-tanda kehidupan ayam—seperti kandang ayam, pakan ayam, ataupun suara ayam. Dari depan yang terlihat malah kursi-kursi dan meja yang tertata rapi. Tapi tak apalah, demi ayam tolak pinggang saya masuk juga ke tempat itu.
“Ada ayam tolak pinggang mas?” tanyaku. “ada pak. beli berapa porsi?” jawab mas-mas yang lagi duduk di tempat itu. “Porsi???” tanyaku dalam hati. Sejurus kemudian saya lirik spanduk di tempat…gubrakkkk !!!!…..weee lha dalah….ternyata ayam tolak pinggang itu rupanya sebuah nama untuk ayam panggang khas Botonompo tho… hehehe…kirain ayam unik layaknya ayam ketawa … kuliner nech jadinya.
Jenis ayam yang di panggang di situ adalah ayam kampung. Satu porsi untuk satu orang. Satu porsi itu, ya satu ayam utuh. Tapi jangan kuatir kalau ggak bisa ngehabisin, karena ayamnya ggak terlalu besar kok ukurannya.
Saat ayam mulai dipanggang, kedua sayapnya diposisikan sedemikian rupa sehingga persis kayak posisi sedang bertolak pinggang. Mungkin inilah kenapa ayam bakar ini disebut dengan Ayam Bakar Tolak Pinggang seperti tertulis dalam spanduk tempat rumah makan itu.
Ayam bakar ini disajikan dengan sambel kecap yang ditempatkan terpisah. Untuk yang hobi pedas atau yang merasa kurang pedas, lombok biji utuh juga disediakan. Sebagai pelengkap hidangan, tempat makan itu juga menawarkan tiga alternative sayur. Ada cah kangkung, “sayur asem”, dan sayur pare.
Kalau cah kangkungnya, tidak ada beda dengan cah kangkung yang biasa dijual di tempat-tempat lain. Untuk “sayur asem” kayaknya agak berbeda dengan sayur asem yang saya kenal selama ini. Setahu saya, sayur asem itu biasanya rasanya agak asem-asem gimana…dan isinya ada kacang panjang yang dipotong pendek-pendek, buah asem, dan kawan-kawannya. Tapi di tempat itu lain banget. Isi sayur asemnya itu --kalau ggak salah-- daun kelor dan rebung yang diiris tipis-tipis. Terus rasanya ggak ada asem-asemnya. Tapi no problemo, mungkin itulah salah satu bukti keunikan negeriku ini, penyebutan boleh sama tapi wujud bisa beda….
Sekarang tentang sayur pare. Pare yang disuguhkan di tempat itu tetap pare yang terkenal pahit itu. Satu porsinya hanya terdiri dari satu potong pare bagian tengah –entah kebetulan dapat tengah atau mesti tengah, saya ggak mudeng--. Yang membuat agak beda dengan sayur pare yang selama ini saya kenal terletak pada kuah dan pengolahannya. Kuah sayur ini warnanya kuning, persis kuahnya opor ayam. Rasanyapun juga mirip-mirip. Untuk pengolahannya, kelihatannya pare tersebut pertama-tama dikeluarkan isinya. Selanjutnya bagian tengah pare yang kosong itu diisi gilingan ikan halus --entah ikan apa itu. Tapi yang pokok dengan perpaduan kuah dan gilingan ikan itu, rasa pare sudah tidak pahit lagi –meskipun ggak hilang sepenuhnya.
Mengenai harga, ggak mahal amat --jauhlah bila dibanding dengan satu porsi ayam engkung yang ada di Jakarta. Mengenai cara penyajian, kelihatannya mereka sudah professional –kita dateng, pesan, dan tidak terlalu lama makanan sudah siap.
Yach..akhirnya begitulah hunting ayam tolak pinggang berakhir. Bolehlah ini sebagai tambahan informasi tempat alternatif pilihan wisata kuliner di Makassar.

0 komentar:
Poskan Komentar